Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo

Jl.Urip Soemoharjo No. 58 Ponorogo

Mentan Optimis Capai Swasembada Gula 2019 Melalui Pemanfaatan Lahan Rawa

Kementerian Pertanian (Kementan) optimis mampu mewujudkan swasembada gula putih di tahun 2019. Perihal hal ini, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman meninjau perkebunan tebu di lahan rawa yang berlokasi di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, SeninĀ (22/5). Hadir pada kunjungan ini Dirjen Perkebunan, Bambang, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi, Syukur Iwantoro, dan Wakil Bupati Ogan Komering Ilir, Muhammad Rifa’i.

Dalam kunjungan ini, Mentan melakukan panen sekaligus peletakan batu pertama pembangunan pabrik gula pertama di Indonesia yang bangun di lahan rawa. Pabrik gula akan beroperasi di tahun 2019 guna meningkatkan produksi gula nasional.

Mentan, Amran mengatakan model pengembangan tebu di lahan rawa ini merupakan terobosan baru dan pertama kali dikembangkan di Indonesia. Dengan demikian, lahan rawa menjadi masa depan pergulaan Indonesia dan ramah lingkungan.

“Sampaikan pada dunia, masa depan pergulaaan ada di lahan rawa dan ramah lingkungan,” kata Amran ditengah kunjungan di lahan tebu yang merupakan lahan rawa.

Amran menjelaskan pengembangan tebu di lahan rawa memiliki potensi produksi yang tinggi dan biaya yang relatif rendah karena kebutuhan air mudah terpenuhi. Selain itu, pengangkutan tebu menggunakan transporasi sungai yang rendah biaya dan sedikit menghasilkan CO2 sehingga tidak merusak lingkungan.

“Total lahan rawa Indonesia mencapai 21 juta ha dan 8 hingga 10 juta ha yang sudah bisa digarap atau ditanami tebu. Indonesia dapat optimalkan 1 hingga 4 juta ha saja dapat terlepas dari impor bahkan melakukan ekspor,” ungkapnya.

Amran mengungkapkan sampai saat ini terdapat 4 pabrik gula yang sudah berjalan dan 7 pabrik sedang dibangun sehingga totalnya terdapat 11 pabrik gula di Indonesia. Menurutnya, jika semua pabrik gula ini bergerak atau optimal produksi gula, maka di tahun 2019 untuk gula putih (white sugar) bisa swasembada. Sementara gula rafinasi paling lambat swasembada dapat diwujudkan 5 tahun ke depan dari sekarang.

“Kami fokus mendorong tebu. Kami dorong investasi di bidang gula. Sudah ada 4 pabrik gula yang jalan. Kalau ini bergerak semuanya, tidak ada lagi cerita impor,” ungkapnya.

Amran menyebutkan Kebutuhan gula putih Indonesia mencapai 2,7 juta per tahun atau 225 ribu ton lebih per bulan. Kemudian kebutuhan gula rafinasi untuk industri 3 juta ton per tahun sehingga total kebutuhan mencapai 5,7 ton per tahun. Sementara produksi nasional bergerak 2,2 sampai 2,6 juta per tahun.

“Untuk itu, dengan adanya pemanfaatan lahan rawa untuk tanam tebu, produksi gula dalam negeri akan meningkat dan impor semakin berkurang bahkan kita stop impor. Kita bisa lakukan ekspor,” tegasnya.

Lebih lanjut Amran menekankan pemerintah tidak hanya fokus pada peningkatan produksi melalui pengembangan pabrik gula. Akan tetapi, meningkatkan juga pendapatan petani dengan menjaga stabilitas harga jual tebu.

“Pabrik kita bangun, kami pun tetap jaga harga tebu petani sehingga pendapatan petani meningkat. Harga tebu petani telah diatur oleh Harga Patokan Perintah. Sehingga, pengembangan pabrik gula merupakan upaya untuk memotong rantai pasok agar harga gula di pasaran stabil,” tegasnya.

Wakil Bupati Ogan Komering Ilir, Muhammad Rifa’i mengungkapkan wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir terluas di Sumatera Selatan yang 75 persen merupakan lahan rawa. Untuk itu, pemerintah Ogan Komering Ilir sangat mendukung kegiatan investasi di bidang tebu.

“Dengan potensi lahan rawa yang sangat luas kami miliki, kami dukung penuh tujuan pemerintah pusat bersama investor untuk dimanfaatkan tanam tebu,” demikian ungkapnya.

Untuk diketahui, pengembangan tebu di lahan rawa, Ogan Komering Ilir dimulai sejak tahun 2012 dengan luas tanam 4.000 ha. Target luas tanam di tahun 2017 sebesar 8.700 ha. Sementara target di tahun 2019 mencapai 20.000 ha dengan poduksi diperkirakan mencapai 10.000 ton tebu per hari.

Produktivitas tebu di lahan rawa ini mencapai 80 ton per ha. Panen dilakukan pada bulan Maret, September dan Oktober dengan cara semi mekanikal.

Updated: May 31, 2017 — 3:52 am
Dinas Pertanian © 2014 Frontier Theme