Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo

Jl.Urip Soemoharjo No. 58 Ponorogo

Mengenal Gejala dan Penanggulangan Penyakit BPKC pada Cengkeh

Sosialisasi tentang penyakit tanaman cengkeh di Kantor UPTD Pulung

Sosialisasi tentang penyakit tanaman cengkeh di Kantor UPTD Pulung

Ponorogo.Cengkeh merupakan salah satu tanaman unggulan subsektor perkebunan di Kabupaten Ponorogo. Namun saat ini produktifitasnya terus mengalami penurunan akibat serangan penyakit bakteri pembuluh kayu cengkeh (BPKC) yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas syzigii. Tingkat kehilangan produksi karena serangan penyakit ini bisa mencapai 10-15%. Serangan penyakit BPKC terluas ditemui di Kecamatan Ngrayun dan Kecamatan Ngebel, dan sekitar 80% tanaman cengkeh di daerah ini mati.

Penularan penyakit BPKC umumnya mengikuti arah angin melalui vektor serangga Hindola fulfa (di Sumatera) dan Hindola striata (di Jawa). Penularan penyakit ini dapat pula melalui alat-alat pertanian seperti golok, gergaji, sabit yang digunakan untuk memotong pohon terjangkit.

Adapun gejala serangan Penyakit BPKC sebagai berikut:

A. Mati cepat

  1. Daun gugur mendadak;
  2. Ranting pada cabang dekat pucuk atau pada pucuk mati;
  3. Daun gugur dari atas ke bawah, terjadi selama beberapa minggu atau bulan, kadang- kadang cabang atau seluruh tanaman muda layu secara mendadak, sehingga daun yang kering dan berwarna coklat tetap melekat pada pohon untuk beberapa waktu;
  4. Daun tua pada umumnya berwarna kekuningan dan cepat gugur;
  5. Cabang dapat mati kalau daun makin banyak yang gugur;
  6. Beberapa cabang bagian bawah dapat bertahan lama setelah bagian atas pohon mati;
  7. Seluruh tanaman dapat bertahan dalam waktu 2 tahun sejak permulaan timbulnya gejala;
  8. Akar mati sejalan dengan matinya bagian atas pohon.
  9. Jika kayu dipotong memanjang, sering terlihat garis-garis kelabu kecoklatan, terutama pada akar dan batang;

10.  Lendir bakteri seperti susu keluar dari potongan akar atau cabang bila bagian tanaman ini disimpan beberapa jam di tempat lembab. Lendir ini dapat keluar juga jika bagian tanaman sakit tadi ditekan dengan kuat.

B. Mati Lambat

  1. Gejala terjadi secara bertahap, seluruh daun menguning lalu gugur bagian demi bagian;
  2. Daun dewasa menjadi tua sebelum waktunya, masa gugur daun dapat berganti dengan pulihnya sebagian pohon dan berkembangnya daun muda serta kuncup bunga namun jumlahnya sangat sedikit;
  3. Mati ranting dan mati cabang terjadi di seluruh pohon, tanaman mati 3-6 tahun sesudah tampak gejala;
  4. Batang dan akar pohon yang mati secara lambat ini tidak mengeluarkan lendir bakteri jika dilembabkan;
  5. Tanaman muda di kebun yang umurnya kurang dari 3 tahun jarang menunjukkan gejala penyakit, meskipun mungkin sudah mengalami infeksi;
  6. Di kebun yang umur tanamannya berbeda-beda, biasanya tanaman yang paling tua (dan yang paling tinggi) terjangkit lebih dulu;
  7. Gejala penyakit BPKC baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah sama yaitu kecepatan pertumbuhan berkurang, daun menguning dan suram;
  8. Gugur daun sering diikuti dengan gejala layu mendadak, dan kematian yang diawali dengan mengeringnya cabang atau ranting;
  9. Pada dataran tinggi dan dataran sedang, kematian berlangsung lebih cepat (6 bulan). Sedangkan di dataran rendah kematian berlangsung lambat (10 bulan).

Pengendalian Pseudomonas syzigii

Pengendalian dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik oksitetrasiklin (OTC) sebanyak 6 gr/100 ml air. Jarum infus yang digunakan berdiameter 1 mm. Penginfusan dilakukan setiap 3-4 bulan sekali. Pemberian antibiotik oksitetrasiklin ini dapat menekan persentase pembuluh kayu terinfeksi dan juga dapat menekan penyebaran BPKC di dalam pembuluh kayu. Pengendalian dapat dipadukan dengan melakukan penyemprotan insektisida dengan sasaran serangga vektor penular penyakit BPKC menggunakan insektisida Matador 25 EC, Akodan 35 EC, Curacron 500 EC dan Dads 2,5 EC dengan interval 6 minggu sekali sampai serangga vektor tidak ada lagi. Pohon-pohon yang terserang berat sebaiknya ditebang dan dibakar. (ndang).

Updated: February 26, 2014 — 12:58 pm
Dinas Pertanian © 2014 Frontier Theme