PONOROGO (15/06/2022)-Methik pari ialah istilah Jawa yang berarti memetik atau dengan kata lain dapat disebut juga dengan memanen. Tradisi methik pari adalah ritual simbolis sebagai rasa syukur masyarakat pedesaan khususnya petani untuk Sang Maha Pencipta. Gathot Rujiantono selaku Ketua Gapoktan Manunggal Karanggebang menuturkan, “Methik pari merupakan kegiatan rutin tahunan dalam menyambut musim panen raya. Untuk tahun ini, acara dilaksanakan di Gubuk Gapoktan Manunggal Desa Karanggebang Kecamatan Jetis di sawah blok Gubek, setelah sebelumnya diadakan di sawah blok Serut.”

Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo, Masun beserta jajarannya, penyuluh pertanian BPP Kecamatan Jetis, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Karanggebang, juga anggota gabungan kelompok tani atau gapoktan Manunggal Desa Karanggebang.

Dalam sambutannya, Kepala Dipertahankan menjelaskan mengenai betapa mulianya profesi petani.
“Petani adalah profesi pertama yang ada di dunia ini. Ketika manusia pertama hadir di dunia, yang pertama dibutuhkan adalah pangan, dan semoga hasil panen raya nanti membawa keberkahan, melimpah, bisa digunakan untuk menyekolahkan putra putrinya juga untuk kebutuhan lainnya,” ujarnya.

Do’a bersama berlangsung dengan khidmat guna memohon kelancaran, keberkahan hasil panen, dan tolak bala. Acara kemudian dilanjutkan dengan kenduri 10 ayam ingkung dan berbagai jajan tradisional yang telah disiapkan. Sebanyak kurang lebih 100 petani dan undangan menyemarakkan acara pada hari ini. Dimulai sejak pukul 08.00 WIB, tradisi methik pari Gapoktan Manunggal Desa Karanggebang diakhiri pukul 11.00 WIB dengan kesenian Gajah-gajahan. © Wisesa Dwi Wijaya, Penyuluh Pertanian Lapang
