kadin statistik

Methik Padi

Oleh MASUN
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo

Petani punya tradisi perihal padi. Mulai semai hingga menuai. Tradisi agraris yang menjelaskan kesadaran petani dalam relasi makrokosmos (alam raya) dan mikrokosmos (individu). Kesadaran individu yang bermuara pada satu rasa: syukur.

Methik padi adalah tradisi petani ketika memanen hasil padi. Gabungan Kelompok Tani Dewi Tani Desa Karanglo Lor Kecamatan Sukorejo menggelar ritus methik padi bersama Kang Bupati Sugiri Sancoko pada Minggu (19/3) lalu. Ritus ini pun berbalut syukur.

Pertama, karena produksi padi dipastikan melimpah. Gabah kering panen (GKP) yang dipetik petani  Ponorogo pada panen raya, Maret – April, diperkirakan mencapai 175.242 ton dari luasan 28.265 hektar. Jumlah ini setara 38,13% total produksi GKP tahun lalu. Panen padi terjadi sepanjang tahun. Terdapat tiga puncak : Maret – April (35% – 40%), Juli – Agustus (30% – 35%), dan Nopember – Desember (10% – 15%). Panen di bulan-bulan lain dalam jumlah kecil.

Total produksi padi Ponorogo pada 2022 mencapai 459.157 ton. Tingkat produktivitasnya 6,20 ton/hektar. Capaian ini menempatkan Ponorogo masuk sepuluh besar daerah penghasil padi di Jawa Timur (BPS 2023). Jumlah rumah tangga petani yang terlibat panen diperkirakan 118.250 keluarga. Pengawalan produksi dan produktivitas padi yang tinggi menjadi komitmen Pemerintahan Bupati Sugiri Sancoko – Wakil Bupati Lisdyarita.

Tiga klaster program telah dirancang. Klaster peningkatan akses terhadap agroinput, klaster peningkatan mutu prasarana prapanen dan pascapanen, terakhir klaster peningkatan kapasitas kelembagaan petani dan perlindungan usahatani. Realisasi klaster agroinput di aspek irigasi, misalnya, telah dibangun 115 unit irigasi air tanah dalam, 48 unit rehabilitasi jaringan irigasi tersier, dan 1 unit embung. Kemudian di aspek pupuk telah tertebus 31.450 ton urea bersubsidi, 21.366 ton NPK bersubsidi dan terbentuk 23 kelompok tani mandiri pupuk organik.

Implementasi klaster prasarana prapanen dan pascapanen meliputi penyediaan alat mesin pertanian (alsintan) prapanen –traktor, cultivator, sprayer. Lalu penyediaan alsintan pascapanen –combine harvester, bed/vertical dryer, dan rice milling unit. Terakhir terbentuk lembaga pengelola alsintan berupa Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA) dan Brigade Pascapanen. Adapun pelaksanaan klaster kelembagaan dan perlindungan usahatani meliputi Asuransi Usahatani Padi bagi 45 kelompok tani dengan luas lahan 372 hektar yang rawan kebanjiran, kekeringan, dan serangan hama.

Kedua, karena anomali harga GKP masih terjadi hingga medio Maret. Ketika suplai GKP di pasar meningkat akibat panen raya. Harganya justru ikut meroket naik. Fenomena ini paradoks terhadap rezim pembentukan harga keseimbangan (equilibrium price) di pasar normal. Umumnya harga melorot turun manakala terjadi penambahan suplai. Anomali ini tentu sangat didamba petani.

Pada saat panen raya Maret 2022, BPS mencatat harga GKP di petani turun menjadi Rp4.570/kg atau melorot 5,76% dari harga pada Februari (Republika 2022). Namun pada panen raya tahun ini, setidaknya sampai medio Maret, harga GKP di petani masih terpantau naik hingga Rp6.200/kg dibanding rerata harga pada Februari sebesar Rp5.711,2/kg (BPS 2023). Anomali harga GKP pasti tidak langgeng. Pasokan dan harga beras di pasar turut andil membentuk harga keseimbangan GKP. Pun harga GKP di pasar internasional yang lebih rendah yaitu Rp5.170,3/kg pada medio Maret (Databoks.katadata.co.id 2023). Apalagi Badan Pangan Nasional telah menerbitkan beleid Nomor 62/KS.03.03/K/3/2023 yang mematok harga GKP di petani sebesar Rp5.000/kg per 11 Maret 2023. Harga keseimbangan GKP yang adil dibutuhkan untuk semua : petani, penggilingan, dan konsumen.

Dus, pantas memang methik padi berbalut syukur petani. (*)

Sumber : Harian Radar Madiun Jawa Pos Group edisi terbit 21 Maret 2023