PONOROGO-Sebanyak tiga puluh orang anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Jaya Desa Sraten Kecamatan Jenangan mengikuti kegiatan pelatihan peningkatan sumber daya manusia pada tanggal 10 November 2021. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Balai Desa Sraten. Adapun materi pelatihan adalah perbanyakan agens pengendali hayati. Materi diberikan oleh Penyuluh Pertanian Kecamatan Jenangan (Agus Sairi), POPT Kecamatan Jenangan (Mayang Ayudya Handini), dan Petugas UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Madiun (Pradana Rizka Prayitna). Turut hadir dalam pelatihan Kepala Desa Sraten (Edi Purnomo) dan Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Jenangan (Kuntohari).

Sistem pertanian di Indonesia dewasa ini telah banyak menimbulkan banyak kerugian dan permasalahan yang cukup kompleks, baik pada hasil produksi pertanian, lingkungan, hingga kesehatan. Salah satu permasalahan yang cukup menimbulkan kerugian secara ekonomi ialah permasalahan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Di dalam pengendalian OPT, petani pada umumnya lebih memilih untuk menggunakan bahan pengendali kimiawi atau disebut pestisida. Penggunaan pestisida dalam pengendalian OPT dalam jangka panjang dan tidak bijaksana dapat menimbulkan dampak negatif, baik untuk manusia, ternak, maupun terhadap lingkungan. Oleh karena itu, perlu untuk dilakukan pengendalian yang lebih aman dan ramah lingkungan. Salah satu metode pengendalian OPT ramah lingkungan dapat dilakukan dengan Pengendalian Hayati salah satunya dapat memanfaatkan peran Agens Pengendali Hayati (APH) untuk mengendalikan serangan OPT. Adapun tujuan dari pelatihan ini adalah untuk mengenalkan dan memasyarakatkan penggunaan APH kepada anggota Gapoktan Karya Jaya. Edi Purnomo dalam sambutannya menyampaikan harapan agar pelatihan ini dapat membantu masyarakat terkait dengan pengendalian hama dan penyakit yang ada di Desa Sraten. “Petani akan bisa semakin hemat dalam penggunaan obat-obatan dan akan terganti dengan APH ini,” imbuhnya.

Dalam materinya, Agus Sairi menyampaikan bahwa APH terdiri dari empat jenis, yaitu predator, parasitoid, patogen serangga (entomopatogen), dan agens antagonis. Adapun mekanisme kerjanya dalam melakukan pengendalian OPT adalah dengan cara antibiosis/lisis, kompetisi/persaingan, dan hiperparasitisme. “Penggunaan APH sangat menguntungkan, karena aman bagi pengguna, hasil pertanian, dan lingkungan. Selain itu juga murah, mudah dibuat sendiri, dan secara alami dapat berkembang di alam,” ujarnya.

Beberapa APH yang banyak digunakan antara lain cendawan Beauveria bassiana, cendawan Trichoderma sp., dan bakteri Paenybacillus polymyxa.Perbanyakan APH dapat dilakukan dengan beberapa cara tergantung dari jenis APH yang akan digunakan. Untuk perbanyakan cendawan Trichoderma sp. biasanya dilakukan dengan metode padat, dengan media jagung pecah, beras, ketan, atau pun karak. Sedangkan perbanyakan agens pengendali cendawan Beauveria bassiana dan bakteri Paenybacillus polymyxa biasanya dilakukan menggunakan metode cair, yaitu menggunakan media Ekstrak Kentang Gula (EKG). Pemateri Pradana Rizka Prayitna menjelaskan langkah-langkah perbanyakan APH dengan kedua metode tersebut.
Bagian akhir dari pelatihan tersebut adalah praktek perbanyakan APH cendawan Beauveria bassiana dengan metode EKG dan cendawan Trichoderma sp. dengan media jagung pecah. Mayang Ayudya Handini mendampingi kegiatan praktek tersebut mulai dari penjelasan alat dan bahan sampai proses perbanyakan APH. APH akan siap digunakan setelah difermentasi selama 14 hari untuk metode EKG dan 4-7 hari untuk media jagung pecah. “Aplikasi APH pada tanaman dapat dilakukan dengan mencampurkan 200 gram bahan hasil fermentasi ke dalam 1 (satu) tangki ukuran 14-16 liter air,” pungkasnya. (Purwati)
