PONOROGO – Kamis, 14 September 2023, telah dilaksanakan Pelatihan Tematik Pembuatan Rotan (Ramuan Organik untuk Tanaman) dan Bokashi di BPP Kecamatan Jenangan. Dalam pelatihan tematik ini, sejumlah 20 orang petani yang berasal dari anggota kelompok tani di Kecamatan Jenangan menjadi peserta pelatihan. Selain itu, dalam pelatihan tersebut turut hadir juga Kepala Bidang Penyuluhan dan Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Ponorogo.
Pelatihan tematik dimulai pada pukul 08.30 WIB, dimoderatori oleh Niken Ayu Riza Rohmah, yang kemudian mempersilahkan Koordinator BPP Kecamatan Jenangan, Surono, untuk memberikan sambutan pembuka. Dalam sambutannya, Surono menyampaikan bahwa pemilihan tema, yakni pembuatan rotan dan bokashi, dilatarbelakangi oleh beberapa permasalah yang dihadapi oleh petani. “Permasalahan itu diantaranya: jumlah pupuk bersubsidi yang diperoleh petani semakin berkurang, semakin meningkatnya biaya produksi pertanian (mahalnya pupuk non-subsidi dan pestisida) dan menurunnya kesuburan tanah,” ujarnya.

Skema pelatihan tematik kali ini dibagi menjadi 2 sesi, sesi materi ruang dan praktek. Pada sesi pertama, narasumber memaparkan materi pembuatan rotan dan bokashi dalam bentuk ppt. Setelah itu, pada sesi kedua para peserta pelatihan diajak untuk praktek secara langsung membuat rotan (ramuan organik untuk tanaman) dan bokashi dengan bahan-bahan yang telah disiapkan oleh masing-masing pemateri.
Dalam pelatihan tematik ini diisi oleh 2 orang pemateri, yaitu: Suluh Agung Prabowo dan Rohmad. Keduanya merupakan PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) di Kecamatan Jenangan, sehingga 2 materi yang disampaikan pada pelatihan tematik adalah materi pilihan yang dibutuhkan oleh para petani di Kecamatan Jenangan. Pada sesi materi ruang, Suluh menyampaikan seputar pembuatan rotan (ramuan organik untuk tanaman), sedangkan Rohmad menyampaikan seputar pembuatan bokashi. Kedua pemateri menyampaikan secara lengkap materi yang disampaikan masing-masing, mulai bahan-bahan dan peralatan, cara membuat hingga cara aplikasi rotan dan bokashi.

Langkah-langkah untuk membuat rotan (ramuan organik untuk tanaman) yang dijelaskan oleh Suluh dalam pelatihan tematik ini, yaitu sebagai berikut:
- Cacah buah pisang, buah papaya, buah nanas, buah mangga, buah semangka/melon, kangkung air, kacang panjang, dan jagung muda tanpa membuang kulitnya. Untuk bahan papaya wajib dibuang semua isinya.
- Sterilkan semua bahan yang sudah dicacah di atas dengan cara merendam dalam air dengan suhu 60°C selama 5-10 menit. Begitu juga sterilkan peralatan yang akan di gunakan, seperti blender, jerigen, baskom, pisau dengan menggunakan alkohol 70%.
- Blender semua bahan yang telah di setrilkan tersebut, hingga halus seperti membuat jus.
- Masak gula merah/gula kelapa dengan air 1 liter, hingga mendidih dan gula larut sempurna, kemudian diamkan hingga dingin.
- Campurkan Gula merah yang telah di cairkan, air cucian beras dan air kelapa dengan bahan yang telah diblender tersebut dalam baskom, kemudian aduk hingga rata.
- Masukkan larutan yang telah dicampur ke dalam jerigen yang telah dibersihkan dan di sterilkan dengan alkohol 70%.
- Lakukan fermentasi larutan secara anaerob selama 14-21 hari didalam jerigen. Guncang-guncang jerigen setiap 2 hari sekali agar proses fermentasi berlangsung sempurna/merata. Kemudian tutup dibuka agar gas efek fermentasi dapat keluar.
- Fermentasi berhasil ditandai dengan bau atau aroma harum seperti aroma tape, namun jika berbau asam dan busuk berarti fermentasi gagal. Fermentasi selesai jika sudah tidak lagi menghasilkan gas.
- Langkah terakhir yaitu saring larutan yang telah difermentasi tersebut, simpan di tempat sejuk, dalam wadah yang steril dan tertutup.

Sementara itu, langkah-langkah untuk membuat bokashi yang dijelaskan oleh Rohmad dalam pelatihan tematik ini, yaitu sebagai berikut:
- Larutkan EM4, gula, dan air ke dalam ember untuk mengaktifkan EM4.
- Campur kotoran/limbah ternak, sekam, dan dedak sampai merata.
- Siram bahan-bahan yang sudah dicampur di atas dengan larutan EM4 yang sudah aktif dan air sampai kandungan air bahan bokashi mencapai 30-40% dengan indikator bila adonan dikepal air tidak menetes dan jika kepalan dilepas adonan masih mengumpul.
- Bahan-bahan diaduk merata di atas alas terpal dan digundukkan dengan ketinggian minimal 15-20 cm kemudian ditutup dengan karung goni/terpal selama kurang lebih seminggu.
- Suhu adonan dicek setiap 5 jam sekali. Pertahankan suhu bahan 40-50°C. Bila suhu lebih dari 50°C karung penutup dibuka, lalu adonan dibolak-balik, kemudian kembali ditutup.
- Setelah sekitar seminggu bokashi selesai terfermentasi dan dapat digunakan sebagai pupuk.

Setelah pemberian materi usai, dilanjutkan praktik bersama pembuatan rotan (ramuan oranik untuk tanaman) dan bokashi. Kegiatan praktik berlangsung dengan penuh semangat dan antusias peserta untuk ikut berpartisipasi dalam praktek pembuatan rotan dan bokashi. Hal ini menandakan pelaksanakan Pelatihan Tematik pada waktu itu berjalan dengan lancar hingga rangakaian acara usai pada siang hari, pukul 12.30 WIB. (Suluh A. P.)
