PONOROGO – Rabu, 21 Agustus 2024, warga Desa Ngrupit Kecamatan Jenangan mengadakan acara panen raya padi varietas Mantap, warga lokal sering menyebutnya dengan “Methik Pari”. Acara ini berlangsung di Kelompok Tani Karya Makmur di Dusun Gentan yang dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Bupati Ponorogo, Dandim 0802/Ponorogo, staf ahli Kementerian Pertanian, Kapus PJ Satgas Antisipasi Daruat Pangan Provinsi Jawa Timur, tim BPSIP Jawa Timur, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo beserta tim, serta Camat Jenangan juga segenap perangkat Desa Ngrupit.

Acara panen ini menandai sukses besar dalam sektor pertanian Desa Ngrupit dengan total luas lahan pertanian mencapai 288,8 hektar. Kegiatan ini merupakan panen kedua dari upaya tanam padi empat kali dalam setahun, yang menunjukkan komitmen kuat dari petani dalam meningkatkan produksi padi. Seluas 10 Ha lahan di Desa Ngrupit ditanami dengan padi varietas Mantap yang merupakan varietas unggul baru padi yang dilepas oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) pada tahun 2019. Varietas Mantap ini memiliki produksi hasil tinggi, tahan Wereng Batang Coklat (WBC) biotipe 1, 2, serta 3, dan tahan penyakit hawar daun bakteri (HDB). Potensi hasilnya hingga 9,1 ton/ha, dengan rata-rata produksi mencapai 7,2 ton/ha, dan umur berkisar 116 hari setelah semai.1 Deskripsi tersebut terbukti dengan hasil panen petani yang mencapai 13-15 kuintal per kotak atau mencapai 10-10,5 ton per Ha.

Kepala Desa Ngrupit, Suherwan, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap pencapaian ini. “Dalam upaya peningkatan produktivitas, ada beberapa daerah yang kesulitan karena tidak tersedianya air yang cukup sehingga kami mohon dukungan fasilitasi untuk pembangunan sumur dalam dan combine harvester,” ungkapnya.

Andi Muhammad Sakir, staf ahli Kementerian Pertanian, memuji pencapaian Ponorogo dalam menerapkan Indeks Pertanaman (IP) 400. Menurut beliau, Ponorogo telah mencapai hasil yang sangat baik dengan IP 400 dan menunjukkan hasil yang menggembirakan dengan rata-rata hasil panen mencapai 10 ton per hektar, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 5,4 ton per hektar. “Jawa Timur, secara keseluruhan, masih berada pada status merah. Namun, Ponorogo sudah mendapatkan lampu hijau dalam memenuhi target penambahan areal tanam,” terangnya. Hasil ini sudah cukup bagus, namun beliau berharap petani terus berinovasi meningkatkan produktivitasnya. Pemerintah juga akan berupaya mendukung sarana dan prasarana demi ketahanan pangan nasional.

Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, dalam sambutannya menyampaikan pencapaian yang luar biasa dengan hasil panen mencapai 10,5 ton per hektar. “Kalau semua menanam varietas ini, akan ada penambahan produksi padi di Kabupaten Ponorogo,” harapnya. Kang Giri juga menyebutkan pentingnya penambahan areal tanam dengan pembangunan embung-embung di daerah dataran tinggi, yang bisa difasilitasi dengan program TMMD (Tentara Manunggal Masuk Desa).
Panen raya ini juga bertepatan dengan hari Rabu Kliwon, wuku Gumbreg. Dewa yang menaungi wuku Gumbreg adalah Batara Candra. Acara ini bukan hanya sekadar kegiatan pertanian, tetapi juga merupakan momen penting dalam budaya lokal ditandai dengan dipanennya padi Mbok Sri Sedono dan padi Joko Sedono dengan melibatkan masyarakat dalam suasana yang meriah.

Suprianto, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan, di akhir acara menyampaikan bahwa kegiatan panen raya padi varietas Mantap di Desa Ngrupit menandai kemajuan signifikan dalam sektor pertanian lokal. “Dengan dukungan dari semua pihak dan komitmen kuat, diharapkan hasil panen dan produktivitas pertanian Ponorogo di wilayah ini akan terus meningkat,” ujarnya. (Rezky)
1 https://pustaka.setjen.pertanian.go.id/index-berita/varietas-padi-mantap-si-pulen-tahan-wbc
