PONOROGO – Adanya serangan hama wereng batang cokelat (WBC) di beberapa area lahan sawah di Kecamatan Jenangan direspon cepat oleh Penyuluh Pertanian dan POPT Kecamatan Jenangan dengan pelaksanaan gerakan pengendalian (gerdal). Kegiatan tersebut dimulai di lahan sawah Kelompok Tani Selo Mandiri Desa Plalangan pada hari Rabu tanggal 7 Juni 2023 dan dilanjutkan di lahan sawah Kelompok Tani Tani Mulyo II Desa Jenangan pada hari Kamis tanggal 8 Juni 2023. Gerdal tersebut menggunakan insektisida bantuan dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kab. Ponorogo.

Koordinator POPT Kab. Ponorogo, Suwarni, memberikan arahan sebelum pelaksanaan gerdal di Kelompok Tani Selo Mandiri. Dalam arahannya, Suwarni mengajak petani untuk melakukan pengamatan secara rutin terhadap tanamannya paling tidak seminggu sekali. Adapun pengamatan yang dilakukan harus benar-benar menyeluruh sampai ke bagian pangkal batang. “Wereng batang cokelat lokasinya ada di bonggol tanaman padi, sehingga pengamatannya juga dilakukan di bagian bonggol tersebut,” lanjutnya. Jika pengamatan dilakukan dengan benar, resiko serangan yang sampai menimbulkan kerugian besar akan dapat dihindari. Petani akan tahu kapan waktu yang tepat untuk melakukan pengendalian dengan insektisida.
Suwarni juga mengingatkan bahwa penggunaan insektisida sebagai pencegahan serangan WBC bukan merupakan hal yang benar. Penyemprotan insektisida saat investasi WBC masih di bawah ambang (kurang dari 20 ekor per rumpun) justru dapat mematikan musuh alami WBC yang ada di lahan sawah. “Pencegahan yang tepat adalah dengan penggunaan agen pengendali hayati yang merupakan jamur patogen untuk wereng,” ujarnya. Penggunaan agen pengendali hayati (APH) tidak akan mengganggu musuh alami lain, seperti laba-laba, tomcat, capung, dan lain sebagainya.

Tri Budi Widodo yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa pemilihan varietas tanaman juga merupakan faktor penting yang perlu dilakukan sebagai usaha pencegahan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). “Hindari penggunaan benih yang belum tersertifikasi karena bisa jadi malah membawa penyakit baru untuk tanaman,” tuturnya. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura tersebut menyarankan agar di kelompok tani dilakukan diskusi mengenai varietas yang toleran terhadap OPT berdasarkan pengalaman sebelumnya. Jika memungkinkan akan lebih baik jika dalam satu hamparan ditanam varietas yang sama.

Selain gerdal di kedua Kelompok Tani tersebut, Penyuluh Pertanian dan POPT Kecamatan Jenangan juga terus melakukan monitoring dan upaya pencegahan di wilayah lain di Kecamatan Jenangan. Harapannya, lahan yang terserang WBC segera tertangani dan tidak menyebar ke lahan lainnya. (Purwati)
