PONOROGO – Hari Selasa, 12 September 2023, BPP Kecamatan Sambit mengadakan pelatihan tematik dengan tema Pengembangan Agen Hayati Melalui Media Padat dan Cair. Pelatihan ini dihadiri oleh perwakilan dari Bidang Penyuluhan, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Sambit, POPT Kecamatan Sambit, penyuluh pertanian dari Kecamatan Sambit, Jetis, Sawoo, dan Mlarak, serta perwakilan petani-petani muda dari 13 desa di Kecamatan Sambit.
Pelatihan tersebut dibuka dan dimoderatori oleh Mulijadi selaku Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Sambit. Beliau menuturkan bahwa pemilihan tema perbanyakan agen hayati ini dilatarbelakangi oleh banyaknya petani tanaman hortikultura serta petani tembakau yang mengeluhkan penyakit layu fusarium. “Salah satu pengendalian penyakit layu fusarium yang ramah lingkungan adalah dengan pengembangan agen hayati Trichoderma sp.,” ujarnya.

Kegiatan selanjutnya adalah pemaparan materi dari dua narasumber, yang pertama oleh Rita Kusuma Yudiantie yang memberikan materi tentang perbanyakan agen hayati melalui media padat. Trichoderma sp. adalah salah satu patogen antagonis penghuni tanah yang berfungsi sebagai pupuk biologis dan agen pengendali hayati terhadap mikroba lain, khususnya dari kelompok penyakit patogen tanaman. “Manfaat dari Trichoderma ini selain sebagai biofungisida juga sebagai dekomposer dan biofertilizer yang mampu menyuburkan dan memperbaiki struktur tanah,” ungkapnya. Alat dan bahan yang dipakai untuk perbanyakan Trichoderma antara lain: panci pengukus, kompor, plastik, alkohol, lilin, sprayer, steples, isolat Trichoderma, dan jagung sebagai media padatnya. Jagung dicuci sampai bersih kemudian dikukus selama 20 menit. Setelah itu, jagung ditiriskan di nampan dan diangin-anginkan sampai dingin kemudian dimasukkan ke dalam plastik. Setelah plastiknya dingin dikukus lagi dalam panci selama 30 menit untuk sterilisasi. Setelah 30 menit diangkat dari panci, didinginkan, dan diinokulasi dengan Trichoderma, kemudian simpan di suhu ruang yang bersih selama 14 hari.

Materi berikutnya adalah pengembangan agen hayati Beauveria bassiana melalui media cair yang disampaikan oleh penyuluh pertanian Kecamatan Sambit, Yulnisa Prajarindria. “Agen hayati Beauveria bassiana dapat digunakan sebagai pengendali hama wereng batang cokelat maupun wereng batang hijau pada tanaman padi, serta hama walang sangit dan kepinding tanah,” paparnya. Beliau juga menjelaskan alat dan bahan yang digunakan, yaitu galon, aerator, selang, botol plastik bekas, kentang, isolat Beauveria bassiana, gula pasir, miyak goreng, alkohol, kapas, dan bubuk PK. Kentang dikupas, cuci bersih, dan iris tipis, kemudian direbus dengan air galon sampai empuk. Air rebusan kentang kemudian disaring dan dimasukkan ke dalam galon, tambahkan gula cair, dan sedikit minyak goreng, kemudian simpan hingga dingin. Setelah dingin baru masukkan isolat Beauveria bassiana, kemudian disambungkan dengan rakitan fermentator yang terdiri dari aerator, botol antiseptik, dan botol yang diisi kapas. Inkubasi selama 14 hari.

Para petani muda yang hadir pada pelatihan ini terlihat sangat antusias dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga pukul 13.00 WIB. Mereka juga menuliskan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk bisa dipraktekkan di kelompok tani masing-masing. (rindriapraja)
