WhatsApp Image 2023 09 07 at 15.27.00

FGD Potensi Air Tanah dan Hasil Kemajuan Inventarisasi Jaringan Irigasi Air Tanah

PONOROGO – Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang (UNITRI) bekerja sama dengan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo dalam program Matching Fund mengadakan FGD (Forum Group Discussion) Potensi Air Tanah dan Hasil Kemajuan Inventarisasi Jaringan Irigasi Air Tanah. Kegiatan ini diselenggarakan di Aula Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo pada Rabu, 07 September 2023. FGD dihadiri oleh perwakilan 10 kelompok tani penerima Irigasi Air Tanah Dalam tahun 2023; perwakilan Kepala Desa; Dinas PUPKP; UPT Pengelolaan Jalan, Jembatan, dan Sumber Daya Air; Perwakilan Koordinator BPP dan Penyuluh Pertanian; mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang; dan Tim Teknis Lahan dan Air Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo.

Sambutan dari Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian

FGD ini dibuka secara langsung oleh Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian, Muh. Tamar Mahara. Dalam sambutannya, Tamar menyampaikan bahwa kegiatan ini bagai gayung bersambut dengan program Irigasi Air Tanah Dalam (IATD) yang sedang berlangsung di Kabupaten Ponorogo. “Harapan kami kegiatan FGD yang dihadiri oleh lintas sektor ini, dapat menghasilkan masukan dan outcome yang dapat menunjang kegiatan Irigasi Air Tanah Dalam menjadi lebih baik dan memberikan banyak manfaat untuk petani di Kabupaten Ponorogo,” pungkasnya.

Dian Noorvy Khaerudin menyampaikan materinya

Kegiatan FGD dilanjutkan dengan penyampaian materi Teknis Pengelolaan Sumberdaya Air oleh Dian Noorvy Khaerudin (Dosen Pengairan Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang). Dian memaparkan bahwa Tata Kelola Air yang tepat dapat mempengaruhi produktivitas tanaman. “Perlu diketahui bahwa penambahan IATD yang terbangun di Kabupaten Ponorogo belum diimbangi dengan peningkatan produksi tanaman padi dan jagung secara signifikan dalam 5 tahun terakhir,” paparnya. Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan oleh Dian dan Tim UNITRI. disimpulkan bahwa kondisi tersebut terjadi karena bantuan Irigasi Air Tanah Dalam yang terbangun dari beberapa sampel lokasi yang dicek cenderung memiliki debit air yang cukup untuk mengairi 10 Ha sawah. “Akan tetapi hanya digunakan untuk mengairi petak sawah di sekitar bangunan IATD. Hal ini disebabkan oleh peningkatan jaringan irigasi tidak dilakukan secara bersamaan dengan bantuan IATD yang diberikan,” lanjutnya.

Nanang Syaiful Rizal memaparkan hasil pendugaan air tanah

 Adapun Nanang Syaiful Rizal (Dosen Teknik Universitas Muhammadiyah Jember) yang menjadi pemateri kedua menyampaikan tentang Hasil Pendugaan Air Tanah di 10 titik lokasi Irigasi Air Tanah Dalam. Lokasi tersebut terletak di Kecamatan Jenangan, Sukorejo, Sampung, Pulung, Mlarak, Jetis, Balong, Slahung, Sambit, dan Sawoo. Berdasarkan hasil pendugaan air tanah di 10 titik, Nanang menyimpulkan bahwa di Kabupaten Ponorogo ini lapisan tanahnya termasuk istimewa karena 9 lokasi yang dilakukan uji geolistrik memiliki 3 lapisan akuifer, dan hanya 1 lokasi yang memiliki dua lapisan akuifer. “Selain itu, ketebalan akuifer yang ditemukan rata-rata di atas 3 meter,” ungkapnya. Akuifer merupakan lapisan batuan di bawah permukaan tanah yg mengandung air dan bisa dirembesi air. “Ketebalan akuifer juga mempengaruhi debit air yang keluar dari pengeboran pada irigasi air tanah dalam,” tambahnya.

Diskusi dan tanya jawab menjadi sesi terakhir pada Forum Group Discussion ini. Salah satu penanya adalah perwakilan kelompok tani yang hadir. Pertanyaan yang diajukan adalah tentang bagaimana teknik mengetahui potensi debit air. “Potensi debit air dapat diketahui dari beberapa faktor antara lain ketebalan akuifer, permeabilitas tanah, serta degradasi warna pasir yang seragam,” jawabnya. (Rizka)