IMG 20230922 WA0029

Pertanian Semi Organik Bawang Merah Dengan Sistem Pengairan Drip Irrigation di Lahan LMPSDH Wonorejo Kecamatan Pulung

PONOROGO – Senin, 25 September 2023, BPP Pulung melakukan Study Lapang bersama Arim Kamandaka (56), petani modern anggota Kelompok Tani Tani Mulyo Desa Pulung Merdiko. Arim menanam bawang merah dengan teknologi Drip Irrigation atau dikenal dengan istilah irigasi tetes. Arim yang merupakan seniman sekaligus purnawirawan ASN mencoba bertani bawang merah secara modern menggunakan irigasi tetes selama 2,5 bulan. Dalam berbudidaya bawang merah, selain menggunakan irigasi tetes Arim juga menggunakan pestisida hayati dan pupuk organik cair buatan sendiri. 

Dengan dibantu seorang petani lainnya, Peni (42), Arim mengerjakan lahan kurang lebih 0,28 Ha di bawah tegakan pohon jati di lahan LMPSDH atau Lahan Mbaon. Lahan Mbaon pada musim kemarau sulit dalam pengairan sehingga jarang digunakan. “Namun ternyata kondisi tersebut bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan bawang merah cukup baik dengan menggunakan irigasi tetes,” ujarnya.

Lahan bawang merah milik Arim

Irigasi tetes adalah metode irigasi yang menghemat air dan pupuk dengan membiarkan air menetes pelan-pelan ke akar tanaman, baik melalui permukaan tanah atau langsung ke akar, melalui jaringan katup, pipa, dan emitor (pemancar). Sistim irgasi ini dapat memberikan air dengan debit yang rendah dan frekuensi yang tinggi (hampir terus-menerus) di sekitar perakaran tanaman. Tekanan air yang masuk ke alat aplikasi sekitar 1.0 bar dan dikeluarkan dengan tekanan mendekati nol untuk mendapatkan tetesan yang terus menerus dan debit yang rendah. Karenanya irigasi tetes diklasifikasikan sebagai irigasi bertekanan rendah. Pada irigasi tetes, tingkat kelembaban tanah pada tingkat yang optimum dapat dipertahankan. Sistem irigasi tetes sering didesain untuk dioperasikan secara harian (minimal 12 jam per hari). Irigasi tetes dapat diterapkan pada daerah-daerah di mana air tersedia sangat terbatas atau sangat mahal, tanah berpasir, berbatu atau sukar didatarkan, dan tanaman dengan nilai ekonomis tinggi.

Arim menjelaskan cara kerja irigasi tetes

Irigasi tetes mempunyai kelebihan dibandingkan dengan metoda irigasi lainnya, diantaranya meningkatkan nilai guna air. Air yang digunakan pada irigasi tetes lebih sedikit dibandingkan dengan metode lainnya. Penghematan air dapat terjadi karena pemberian air yang bersifat lokal dan jumlah yang sedikit sehingga akan menekan evaporasi dan aliran permukaan. Transpirasi dari gulma juga diperkecil karena daerah yang dibasahi hanya terbatas di sekitar tanaman.

Arim mennggunakan mesin Diesel untuk menyedot air dari sungai kecil di bawah areal lahan untuk dinaikkan ke penampungan (tandon) yang dibuatnya di areal yang lebih tinggi. “Dari tandon, air dialirkan ke bawah ke lahan dengan pipanisasi dipadukan dengan pipa dari saluran pupuk organik cair. Campuran air dan pupuk organik cair ini mengalir ke pipa bagian bawah dan mengairi tanaman bawang merah dengan sistem irigasi tetes,” ungkapnya.

POC dan pestisida hayati yang akan diaplikasikan pada bawang merah

Arim memanfaatkan bahan organik di sekitarnya seperti kohe (kotoran hewan) dan dedaunan yang ada di sekitar, seperti mindi, mimba, daun tembakau, daun kucingan, dan daun johar, untuk difermentasi menjadi pupuk organik cair. Sementara, pestisida hayati dibuat sendiri dengan campuran daun tembakau, daun mimba, daun johar, dan 2 butir kapur barus.  Tiga jenis daun tersebut direbus pada air mendidih dengan perbandingan masing masing bahan 1: 1 :1. Pestisida hayati ini dapat digunakan untuk menanggulangi hama kaper dan ulat pada tanaman bawang merah. (Farida)