WhatsApp Image 2023 10 06 at 08.51.28

PENTINGNYA PEMAHAMAN SOSIOLOGI PEDESAAN PERTANIAN UNTUK BEKAL CALON PENDAMPING LAPANGAN KEMITRAAN ORTANI

PONOROGO – Pada hari Selasa, 3 Oktober 2023 telah dilaksanakan pelatihan Field Inspector Management Batch 2 Program Kemitraan Ortani oleh PT. Agrofarm Nusa Raya. Adapun materi yang diberikan kepada para calon Pendamping Lapangan Program Kemitraan Ortani adalah Sosiologi Pedesaan Pertanian. PT. Agrofarm Nusa Raya menggandeng peran serta Pemerintah, dalam hal ini Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo, yang diwakili oleh Ika Niscahyani selaku Kepala Bidang Penyuluhan.

Setelah memperkenalkan diri di hadapan 17 peserta calon Pendamping Lapangan Program Kemitraan Ortani, Ika Niscahyani mengatakan bahwa materi yang akan diberikan ini merupakan materi yang sangat penting. “Hal ini mengingat bahwa petani yang notabene akan menjadi mitra kita dalam bekerja tinggal di lingkungan Desa yang masih sangat kental dengan budaya unggah-ungguh, kekeluargaan, gotong royong, dan sebagainya. Maka diperlukan bekal ilmu, baik hardskill maupun softskill, berupa pemahaman sosiologi pedesaan pertanian,” ujarnya. Materi ini memberikan pengetahuan dan pemahaman ketika akan terjun langsung ke Desa dan bertemu dengan para Petani.

Ika Niscahyani saat menyampaikan materi

Penyampaian materi berlangsung dengan metode interaktif dan para peserta calon Pendamping Lapangan Program Kemitraan Ortani mengikuti dengan sangat antusias. Ika Niscahyani memberikan kesempatan kepada para peserta untuk memperkenalkan diri mereka dan mengutarakan alasan mengapa mereka jauh-jauh dari daerah luar Ponorogo ingin mengikuti program pelatihan menjadi calon Pendamping Lapangan pada Program Kemitraan Ortani ini. “Saya sangat antusias mengikuti pelatihan ini karena saya berkeinginan untuk ikut serta dalam pembangunan pertanian. Saya melihat millennial dan Gen Z saat ini banyak yang tidak ingin meneruskan pekerjaan petani. Background keluarga saya adalah keluarga petani, sehingga dari kecil sudah terbangun suasana bertani dan saya ingin meneruskan hal tersebut,” ungkap salah satu Peserta.

Adapun materi Sosiologi Pedesaan Pertanian sendiri mengupas mengenai bagaimana hubungan dengan sosial-kultural di masyarakat, utamanya masyarakat Desa yang notabene kebanyakan bermata pencaharian sebagai petani. Mulai dari pemahaman teori bagaimana membangun hubungan sosial dengan masyarakat luas, hingga implementasi ketika berhadapan dengan petani di sawah atau tegal saat melakukan kunjungan lapangan. “Masalah sosial di bidang pertanian dapat muncul karena faktor ekonomi, budaya, biologis, dan psikologis. Permasalahan ini biasanya terjadi karena adanya kemiskinan, tidak meratanya pembangunan, dan masalah keadilan sosial yang menjadi sentral bagi ekonomi pertanian dan pedesaan,” lanjut Ika Niscahyani. Menurutnya, beberapa penyebab terkini, seperti climate change (perubahan iklim) yang membuat sulitnya berbudidaya dalam pertanian serta kurangnya IPTEK dan penggunaan alsintan, juga menyumbang penurunan produktivitas di bidang pertanian.

Banyak contoh dan gambaran real yang disampaikan untuk mampu melengkapi penjelasan materi sehingga diharapkan para calon Pendamping Lapangan Program Kemitraan nantinya memiliki bekal yang cukup dan mampu menempatkan diri sesuai dengan kapasitasnya, serta mampu menunjukkan budi pekerti yang baik. “Dimana pun itu, yang Namanya petugas pendamping lapangan atau Penyuluh akan selalu menjadi panutan atau contoh bagi perilaku masyarakat kebanyakan. Oleh karenanya, saya harap Adik-Adik mampu untuk beradaptasi dengan kondisi sosial-kultural dan menempatkan diri sesuai kapasitas di tempat pengabdiannya masing-masing,” ungkap Ika Niscahyani.

Penyampaian materi dilakukan dengan interaktif

Sosiologi dalam Pembangunan Pertanian sangat penting di Indonesia karena didasari oleh potensi sumberdaya yang besar dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional cukup besar, penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian sangat banyak, dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Dalam setiap hubungan kerja antara pendamping lapangan atau penyuluh dengan petani pasti selalu tercipta bentuk interaksi sosial, mulai dari interaksi antara individu dengan individu, interaksi antara individu dengan kelompok, dan interaksi antara kelompok dengan kelompok. “Berbagai kelembagaan Petani yang harus diketahui dan dipelajari adalah mulai dari Kelompok Tani (Poktan), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Kelompok Wanita Tani (KWT), Kelompok Usaha Bersama (KUB), Asosiasi Petani sesuai Komoditas masing-masing, dan berbagai kelembagaan Petani lainnya. Sebagai seorang pendamping di lapangan dan penyuluh maka harus mengerti dan bisa melakukan interaksi sosial, baik secara individu kepada Petani maupun interaksi secara kelembagaan,” imbuh Ika Niscahyani sembari memberikan hadiah kepada peserta yang mampu menyebutkan beberapa kelembagaan petani yang ada di Indonesia.

Penyampaian materi Sosiologi Pedesaan Pertanian berlangsung kurang lebih selama 2 jam dan ditutup dengan diskusi atau brainstorming antara Ika Niscahyani selaku Narasumber dengan seluruh peserta calon Pendamping Lapangan Program Kemitraan Ortani. Berbagai pertanyaan yang diajukan dijawab dan kembali diberikan feedback timbal balik, sehingga pada akhirnya didapatkan suatu kesimpulan pemahaman yang sama terhadap permasalahan pertanian yang ada di Indonesia dan bagaimana solusi atau cara mengatasinya jika dipandang dari sudut ilmu Sosiologi. (Arief Pandu Wahyuadi – Bidang Penyuluhan – Dipertahankan Kab. Ponorogo)