unggulan tebu 1

SOSIALISASI PENGENDALIAN OPT LUKA API PADA KOMODITAS TEBU DI LAHAN DEMPLOT BPP SLAHUNG PONOROGO

PONOROGO–Tanggal 13 dan 14 Agustus 2024 Penyuluh Pertanian berkumpul dalam Sosialisasi Pengendalian OPT Luka Api pada Komoditas Tebu. Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh 85 orang penyuluh yang memiliki binaan tebu di wilayah binaan masing-masing. Kegiatan tersebut bertempat di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Slahung dan pengamatan pada lahan demplot tebu.

Peserta sosialisasi semangat mengikuti kegiatan

Dibuka langsung oleh Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dipertahankan) Kabupaten Ponorogo, Ika Niscahyani. Beliau menyampaikan harapan kepada para peserta sosialisasi agar dapat menyerap ilmu dan pengetahuan serta meningkatkan kompetensi di komoditas tebu.

Ika Niscahyani, Kepala Bidang Penyuluhan saat memberikan sambutan

“Terdapat 5 lokasi demplot yaitu di Slahung, Sukorejo, Sambit, Jenangan dan Balong. Lahan tersebut digunakan untuk demplot bersama 21 BPP se-Kabupaten Ponorogo,” ujarnya.

“Penyuluh pertanian diharapkan mempunyai kompetensi tidak hanya di komoditas padi dan jagung, tapi juga di komoditas lain salah satunya tebu agar dapat mendampingi petani secara maksimal di semua komoditas,” imbuhnya.

“Komoditas tebu di lahan demplot BPP Slahung ini lebih mengutamakan selain budidaya yaitu peningkatan kualitas dan rendemen tebu serta pengendalian penyakit luka api,” pungkasnya.

Penjelasan tentang OPT Luka Api pada komoditas tebu dan praktik pengendaliannya

Didik Darmanto sebagai pemateri pada acara tersebut  memaparkan penyakit luka api pada komoditas tebu. Penyakit luka api pada tanaman tebu disebabkan oleh jamur Ustilago Scitaminea. Gejala yang ditimbulkan adalah terbentuknya organ mirip dengan cambuk hitam pada pucuk batang tebu, cambuk setebal pensil, tidak bercabang dan berisi jutaan spora, spora yang terbentuk mirip dengan jelaga dan apabila pecah akan terhambur. Terdapat beberapa tanaman inang yang menjadi tempat sementara spora dari jamur Ustilago Scitaminea yaitu golongan graminea seperti jagung, padi, gandum, bambu petung, sorgum dan alang-alang. Penularan dari penyakit luka api terjadi apabila spora terbang terbawa angin, spora terbawa air, miselium pada bahan tanaman tebu dan spora pada bibit dapat menularkan kepada bibit lain.

“Fase penting untuk mencegah penularan penyakit luka api terletak pada bibit tanaman tebu, bibit yang digunakan harus sehat dan terhindar dari penyakit luka api,” katanya.

Peserta diajak mengidentifikasi penyakit luka api di lahan demplot tebu

Peserta diajak ke lahan demplot untuk mengidentifikasi penyakit luka api dengan praktik secara langsung cara mengantisipasi terjadinya penularan penyakit luka api yaitu dengan membungkus bibit menggunakan cendawan baik seperti mikoriza atau trichoderma, bibit yang terbungkus oleh cendawan baik akan terlindungi dari cendawan yang merugikan, mikoriza menembus jaringan tanaman lalu hifanya akan menyelubungi akar sehingga melindungi akar dari cendawan lain.

Pada hari berikutnya dijelaskan terkait cara pembiakan Trichoderma. Trichoderma dapat menghambat pertumbuhan serta penyebaran racun jamur penyebab penyakit luka api. Adapun bahan yang diperlukan yaitu spons yang dipotong kecil-kecil, air kelapa, gula pasir dan spora / bibit trichoderma. Peserta sosialisasi diajak untuk membuat secara langsung dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Merendam spons dengan larutan air kelapa dan gula pasi dengan perbandingan 1:1.
  2. Spons yang sudah direndam / dibasahi dengan larutan tersebut dimasukkan kedalam plastik anti panas.
  3. Selanjutnya, spons tersebut di sterilisasi dengan menggunakan presto kurang lebih selama 10-15 menit.
  4. Spons yang sudah disterilisasi diangkat dan didinginkan, lalu diinokulasi spora thrichoderma ke media spons yang telah dingin.
  5. Setelah itu, kantong plastik ditutup rapat dan disimpan di ruangan yang terhindar dari sinar matahari langsung.
  6. Trichoderma akan tumbuh pada media spons kurang lebih 4 hari setelah proses inokulasi.

Trichoderma yang telah tumbuh pada media spons tersebut selanjutnya bisa digunakan untuk membuat metabolit sekunder yang dapat digunakan untuk mencegah jamur tumbuh pada tanaman. Adapun langkah-langkah pembuatan metabolit sekunder tersebut :

  1. Mencampurkan air leri (cucian beras), air kelapa dan gula pasir dengan perbandingan 1:1:1 (1 liter air leri, 1 liter air kelapa dan 1 sendok makan gula pasir).
  2. Memasak larutan tersebut sampai dengan mendidih.
  3. Setelah larutan tersebut dingin selanjutnya masukkan kedalam botol.
  4. Merendam spora yang ada didalam plastik dengan sedikit larutan yang telah dingin.
  5. Setelah itu meletakkan botol tersebut pada shacker selama 2 minggu, setelah itu metabolit sekuder siap untuk digunakan.
Peserta didampingi narasumber saat praktik pembuatan Tricodherma dan metabolit sekunder

Pengaplikasian metabolit sekunder digunakan sebanyak 1 gelas untuk 1 tangki, penyemprotan sebaiknya dilakukan di pagi hari dan dapat diaplikasikan ke semua tanaman minimal 1 minggu sekali.

Pada acara ini diharapkan penyuluh pertanian dapat meningkatkan pengetahuannya tentang penyakit pada komoditas tebu, selain memperdalam pengetahuan tentang tanaman pangan utama padi, jagung, dan kedelai. Juga keterampilan tentang pembuatan Trichoderma dan metabolic sekunder yang tidak hanya dapat digunakan dalam tanaman tebu, tetapi dapat digunakan untuk tanaman lain. (Irma Tri Wahyuni, Bidang Penyuluhan)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *