IMG 20230623 084657 1 min 1 scaled

Study Lapang Demplot Bunga Jepang dan Praktek Pembuatan Dodol Porang di KWT Agro Mutiara

PONOROGO – Jumat (23/06/2023) di KWT Agro Mutiara Desa Pulung telah dilaksanakan study lapang demplot bunga Jepang dan praktek pembuatan dodol porang. Kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu KWT Agro Mutiara dan beberapa KWT di Kec. Pulung. Adapun lokasinya adalah di Dukuh Bedagan Desa Pulung Kec. Pulung, tepatnya di rumah Muthmainah (48) selaku ketua KWT.

Tim BPP Pulung mendampingi kegiatan study lapang dan praktek di KWT Agro Mutiara

Bunga Jepang merupakan jenis tanaman baru yang dibudidayakan di KWT Agro Mutiara. Beberapa jenis dari tanaman ini bernama Toothache Plant, Paracress, Buzz Buttons, dan Daisy Elektric. Bunga Jepang masuk dalam famili Asteraceae. Nama ilmiah Spilanthes olarecea sp. Tanaman ini selain sebagai tanaman hias juga dapat memberikan tambahan penghasilan bagi petani. Bunga ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan, salah satunya untuk kuliner. Daunnya dimanfaatkan sebagai bahan salad dan juga sup khas negara brazil. Calon bunganya juga enak dimakan dan dapat digunakan untuk keperluan medis. Ekstrak daun dan bunga tanaman ini telah diuji coba dan terbukti melawan jamur dan bakteri, memiliki efek diuretik yang kuat.

Bunga Jepang yang dibudidayakan di KWT Agro Mutiara

Pada kesempatan itu, Muthmainah menerangkan cara budidaya bunga Jepang kepada para peserta kegiatan. Tanaman ini dapat tumbuh baik di media tanam yang berdrainase baik, tanah hitam yang cukup mengandung unsur hara dan bahan organik, serta terkena sinar matahari langsung agar dapat tumbuh dengan optimal. “Bunga yang mulai mekar berwarna kuning semburat merah dan sudah dapat dipanen ketika warna putiknya berwarna merah merata,” ujarnya. Berdasarkan pengalamannya, bunga dapat dipanen pada umur 3 bulan setelah semai.

Selain study lapang ke lahan bunga Jepang, juga dilaksanakan praktek pembuatan dodol porang yang merupakan salah satu olahan dari tepung porang adalah dodol porang. Porang termasuk tanaman yang tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis. Tanaman berumbi ini masuk ke dalam suku talas-talasan atau Araceae yang memiliki potensi ekonomi sangat besar, baik untuk industri pangan maupun nonpangan. Tepung porang memiliki kadar indeks glikemik yang rendah sehingga aman apabila dikonsumsi oleh penderita diabetes. Glukomanan pada porang juga mampu mengurangi kolesterol dan memberi rasa kenyang lebih lama, sehingga memungkinkan bila dikonsumsi saat menjalani program diet. Ini lantaran sifat glukomanan yang dapat menyerap hingga 200 kali pada sistem pencernaan. Oleh karena itu, dapat memberikan perasaan kenyang dan berguna untuk membantu menurunkan berat badan, mengurangi sembelit, serta iritasi usus besar (sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210108093014-282-591041/cara-membuat-tepung-porang-dan-ragam-kegunaannya).

Praktek pembuatan dodol porang

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktek pembuatan dodol porang antara lain 120 gram tepung porang, 3 butir kelapa, 1 Kg gula aren murni, 3 Kg tape ketela kualitas bagus, 5 gram vanili, garam secukupnya, dan 2 lembar daun pandan. Tahap pertama yang dilakukan adalah membuat minyak nabati dari santan kanil 3 butir kelapa. Minyak nabati selanjutnya ditunggu sampai dingin baru diolah ke tahap selanjutnya. Tahap kedua pembuatan dodol porang adalah dengan mencampurkan minyak nabati dengan bahan-bahan lainnya. Semua bahan tadi dipanaskan dalam api sedang sambil terus diaduk hingga mengental dan menjadi dodol. Dodol yang sudah jadi dibiarkan hingga dingin, baru kemudian dikemas dengan cantik.

Dodol porang siap dipasarkan

Dengan dilakukannya praktek pembuatan dodol porang ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis dari tanaman porang. Hal ini mengingat Kecamatan Pulung merupakan salah satu penghasil porang di Kabupaten Ponorogo. Selain itu, diharapkan juga dapat menambah penghasilan keluarga para anggota KWT. (Farida)