PONOROGO – Jum’at, 2 Agustus 2024, tim BPP Kecamatan Sambit melakukan kunjungan kerja di lahan demplot tembakau virginia BPP Kecamatan Jenangan. Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk mempelajari kegiatan panen dan pasca panen tembakau virginia. Ika Niscahyani selaku Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo mendampingi pelaksanaan kunjungan kerja tersebut. Turut serta dalam kegiatan tersebut Purwito, petani tembakau Kecamatan Jenangan dan Sujiono, petani tembakau Kecamatan Sambit.

Kunjungan pagi itu dimulai dengan praktek panen daun tembakau. Surono, penanggung jawab demplot tembakau virginia Kecamatan Jenangan, menjelaskan kriteria daun tembakau yang sudah siap panen. “Saat penjualan tembakau ke mitra, kita wajib menyerahkan krosok terlebih dahulu,” ujarnya. Adapun krosok berasal dari beberapa lembar daun paling bawah yang telah kering pohon. Surono juga menjelaskan bahwa panen dapat dilakukan saat daun tembakau sudah melengkung.

Setelah praktek panen daun tembakau, kegiatan dilanjutkan dengan praktek perajangan dan penjemuran tembakau. Surono menyampaikan bahwa daun tembakau yang telah dipanen tidak bisa langsung dirajang, melainkan harus diperam terlebih dahulu. “Lama pemeraman tergantung dari kondisi daun tembakau,” jelasnya. Purwito dan Sujiono selanjutnya mempraktekkan cara merajang daun tembakau menggunakan mesin perajang. Mereka juga menerangkan cara agar rajangan urat daun bisa terpisah dari rajangan daun tembakau, sehingga pada saat penjemuran semua bagian dapat kering merata. Selanjutnya anggota tim kedua BPP diajak untuk praktek menjemur rajangan tembakau bersama-sama.

Di akhir acara, dilakukan diskusi dan tanya jawab agar semua anggota tim kedua BPP memiliki pemahaman yang sama mengenai panen dan pasca panen tembakau virginia. Sebelum diskusi, Ika Niscahyani mengingatkan agar semua penyuluh pertanian dapat belajar budidaya tembakau. “Meskipun wilayah binaannya saat ini tidak ada tanaman tembakau, seorang penyuluh pertanian tetap perlu mempelajarinya. Karena bisa jadi suatu saat ada petaninya yang akan menanam tembakau,” tuturnya.

Diskusi berlangsung hangat. Salah satunya membahas metode penjemuran rajangan tembakau jika tidak memiliki lantai jemur dan widik, seperti di BPP Kecamatan Sambit. Selain itu juga dibahas kelebihan dan kekurangan penjemuran menggunakan terpal sebagai alas. (Purwati)
