Ponorogo-Dalam kesempatan ini pemerintah Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Kabupaten Ponorogo melalui program Peti Koin Bermantra 2024 sudah memberikan aksi nyata yaitu pembekalan bagi pendamping dan penerima kegiatan dalam bentuk bimbingan dan teknologi pengolahan kopi di Puslit Koka Indonesia Kabupaten Jember selama 3 hari yaitu tanggal 24 s/d 26 Juli 2024. Adapun materi yang diberikan adalah pengelolaan hulu kopi tentang pengantar teknis analisis mutu biji kopi serta pengelolaan hilir kopi tentang praktik roasting kopi, metode uji cita rasa kopi, dan pengenalan cacat cita rasa kopi.

Mutu dan cita rasa seduhan biji kopi sangat dipengaruhi oleh jenis kopi, kualitas panen, lokasi pertanaman, sistem agronomis, metode pengolahan dan sortasi. Mutu kopi yang baik hanya dapat diperoleh dari buah yang telah masak sempurna dan cara pengolahan yang tepat. Kabupaten Ponorogo mempunyai andil besar di kancah perkopian Jawa Timur mulai dari luasan areal tanam sampai dengan penikmat kopi setiap tahunnya meningkat berkisar 2-5 %.

Minum kopi dahulu masih identik dinikmati sebagian besar oleh kalangan orang tua, semakin berjalanannya waktu minum kopi mengalami perubahan dengan kata lain tanpa minum kopi ada sesuatu yang kurang dan beda, bahkan ada pernyataan minum kopi adalah suatu kewajiban sebelum melakukan aktivitas.

Lukito HS selaku Pengawas Mutu Hasil Perkebunan disela pendampingan bimtek pengolahan kopi di Puslit Koka Indonesia mengatakan bahwa petani kopi di Ponorogo masih perlu perhatian khusus dan serius dalam rangka menciptakan kopi berkualitas.
“Mencukupi kebutuhan dasar kopi berkualitas harus didukung peningkatan sumber daya manusia baik petugas Bidang Perkebunan maupun petani kopi itu sendiri,” ucapnya.
“Peningkatan sumber daya manusia dititikberatkan kepada bimbingan teknis mulai dari penanganan pasca panen, pengolahan, dan serangkaian alat mesin yang digunakan dalam proses pembuatan kopi baik roast bean maupun ground coffee. Perlu ditekankan disini bahwa daya saing dan nilai agribisnis produk kopi akan mudah diperoleh dengan adanya integrasi inovasi budidaya, kualitas, dan pemasaran cerdas,” jelasnya.

Bari, petani kopi wilis menyampaikan disela acara bimtek, bahwa dalam kesehariannya untuk pengelolaan kebun kopinya sangat jauh dari ilmu yang didapat saat ini.
“Sebagai petani kopi ilmu yang didapat secara otodidak dari orang tua kami sendiri mulai minim terhadap perawatan berupa pemangkasan, pemupukan, pemanenan bahkan pengelolaan kebun kopi secara optimal,” ujarnya.
“Pada pelatihan ini kami tidak hanya diberikan materi cara penggunaan alat huller saja, tetapi bagaimana cara panen yang tepat seperti panen selektif, semi selektif, lelesan dan racutan,” imbuhnya.

Proses selanjutnya adalah proses penggilingan menggunakan wash proses atau natural proses, tentunya kedua proses ini mempunyai keunggulan dan kelemahan yang terpenting hasil dari green bean harus memenuhi standar biji kering 12 %. Dengan keikutsertaannya di Puslit Koka berharap akan terus berupaya dan memberikan informasi bahwa berusaha tani kopi yang benar akan memberikan dampak bagi keberlanjutan petani kopi di Ponorogo secara umum. anyelir@3
